Senin, 06 Januari 2014

Tepikan aku disini atau ubah diammu nahkodaku

Kita pernah berlayar mengarungi samudera perjuangan pengabdian bersama. Samudera yang begitu luas, dengan hamparan laut yang membiru. Namun ombak yang begitu deras menerpa ketika kita hendak sampai pada daratan yang kita tuju. Dimana kisa sama-sama ingin menepi dan memulai kehidupan yang baru di daratan sana. Mewujudkan impian yang telah kita ukir. Sebuah kehidupan sesungguhnya. Di kapal ini dirimu begitu banyak mengajarkanku akan hidup, terutama tentang kesabaran. 
Tepikan aku disini, sesak ini semakin menderaku. Daripada dirimu menghentikan kapal ini disini, tak beranjak sedikit pun. Sebagai penumpang aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Seorang nahkoda yang seharusnya membawa pada suatu tempat yang kita tuju bersama. Namun jika seorang nahkoda diam seribu bahasa, penumpang bisa apa. Ketika ditanya tak ada sedikit pun kata yang terucap. Bahkan hanya senyum yang sungguh aku tak mengerti. Entah dirimu tak lagi peduli atau karena sesuatu yang dirimu ingin aku tak mengetahuinya. Semua itu begitu semu dan hanya dirimu yang bisa menjawabnya. Karena aku juga tak ingin hanya meraba-raba. Atau memang dirimu ingin kita terombang-ambing disini?. Aku tak sanggup lagi, tepikan aku disini. Ku serahkan semua perjuangan ini padamu. Teruslah berlayar dan rengkuh mimpimu di pulau itu. Tapi ingatlah dirimu jika aku masih disini. Kembalilah dan jemputlah lagi aku disini, di tempat ini.  Atau jika dirimu masih menginginkan aku berlayar bersamamu, ubahlah diammu. Aku tak mau melihatnya lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar