Ketika hati berada pada persimpangan jalan. Dua jalan berbeda arah dengan tujuan yang tak akan pernah sama. Maka seharusnya memilih jalan yang akan mengantarkan kita pada tujuan yang ingin kita capai. Begitu juga masalah hati. Karena tujuan hati hanyalah pada-Nya. Maka harus dipilih jalan yang bisa mengantarkan kita pada-Nya.
Ketika hati menginginkan dia, karena hati percaya
dia bisa mengantarkan hati ini Pada-Nya. Namun tampaknya hati tak bertemu.
Hanya satu sisi saja yang mengharap sedang yang lain tidak. berfokus pada satu orang dan menghiraukan yang lain.
Ya begitulah kurang lebih yang sedang ku rasakan sekarang. Saat aku berharap pada seseorang, sedang seseorang itu tak mempunyai harapan yang sama saat itu juga mulai berdatangan yang ingin mengantarkan hatinya. Tapi hati ini masih sulit untuk membuka diri. Padahal yang dibutuhkan hanya satu yaitu keikhlasan.
Ya begitulah kurang lebih yang sedang ku rasakan sekarang. Saat aku berharap pada seseorang, sedang seseorang itu tak mempunyai harapan yang sama saat itu juga mulai berdatangan yang ingin mengantarkan hatinya. Tapi hati ini masih sulit untuk membuka diri. Padahal yang dibutuhkan hanya satu yaitu keikhlasan.
Oke, aku mau bercerita tentang seseorang. This is about Kak AE. Tanda-tanda kakak itu sedang terjatuh tampak jelas. Tapi akunya dingin(kata siswa-siswaku gitu), karena memang hati ini belum ikhlas untuk terjatuh.
Padahal seharusnya aku terjatuh, bagaimana tidak? Entahlah, padahal kalau berbicara kriteria maka sangat masuk.
1. Sholeh, insha Allah
2. Cerdas, iya
3. Baik, ndak usah ditanya lagi
4. Sabar
5. Mandiri
6. Pekerjaan sudah bagus
7. Rumah sudah punya sendiri jadi ndak bakal ikut mertua
So apa lagi? Seharusnya aku terjatuh bahkan seharusnya terjerembab di dalamnya. Tapi hati tak bisa dimulai dari kata seharusnya. Ada beberapa hal yang masih mengganjal. Selain hati masih mengharap pada yang lain, masalah prinsip sama masalah suku tampaknya jadi ganjalan utama. Urusan prinsip itu agak sulit, sesuatu yang prinsip tidak bisa dipaksakan. Terus masalah suku, ini sebenarnya ndak boleh. Allah tidak pernah mengajarkan memilih jodoh karena suku, karena dihadapan-Nya hanya ketaatan yang membedakannya. Semua memang belum dikomunikasikan dengan keluarga. Tapi pernah sempat dibicarakan tentang harapan mereka. Mereka menginginkan aku mendapatkan orang jawa meskipun ndak mutlak.
Jika memang itu sudah ketetapan-Nya, maka manusia
tak bisa menolaknya. Manusia harus dengan ikhlas menerima dan menjalaninya. Maka saat ini aku benar-benar memasrahkah, menyerahkan dengan sepenuhnya pada sang pemilih hati. Karena sesuatu yang baik menurutku belum tentu baik menurut Allah dan begitu pula sebaliknya. Jika memang dia yang terbaik bagiku maka ikhlaskan aku ya Allah. Ikhlaskan aku untuk terjatuh dan segera menyempurnakan imanku. Jadikanlah kebaikan untuk kami. Namun jika tidak ikhlaskan ia untuk menerima. Dan berikan kami jodoh yang terbaik..Aamiin.




