Sumber : menuinternasional.blogspot.com
Bakpia, siapa tidak kenal dengan makanan yang satu ini. Bentuknya yang mungil menjadikan makanan ini sebagai oleh-oleh wajib ketika berkunjung ke kota Yogyakarta. Rasanya sungguh enak dan gurih, pengen lagi, lagi, dan lagi. Namun ternyata bakpia ini bukan makanan asli kota Yogyakarta lho. Namun bakpia merupakan hasil akulturasi Tionghoa dan Jawa. Hmmm...gimana ceritanya ya? Mari kita lihat.
Resep Bakpia dibawa oleh warga Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok sekitar tahun 1940-an. Kwik menyewa sebidang tanah di daerah Kampung Suryowijayan milik Niti Gurnito. Awalnya bakpia dibuat dengan menggunakan minyak babi. Namun karena di kota Yogyakarta mayoritas masyarakatnya tidak mengkonsumsi daging babi membuat Kwik merubah cara pembuatan yaitu dengan cara dipanggang. Untuk proses pemanggangan Kwik menggunakan arang. Ia menyuplai arang dari temannya bernama Liem Bok Sing. Yang pada akhirnya juga ikut membuat bakpia sekitar tahun 1948. Ternyata bakpia buatan Kwik cocok dengan lidah masyarakat Yogyakarta. Bahkan mulai digemari.
Lambat laun usaha Kwik berkembang dan akhirnya pindah ke sebelah barat kampung Suryowijayan. Pada tahun 1960-an Kwik meninggal dunia dan usahanya dilanjutkan oleh Jumikem anaknya. Sepeninggalan Kwik, Niti Gurnito mulai mengikuti Kwik untuk membuat bakpia. Diduga saat Kwik menyewa tanahnya, kwik memberikan resep pembuatan bakpia kepada Niti. Namun sedikit berbeda dengan bakpia buatan Kwik, bakpia buatan Niti memiliki ukuran yang lebih kecil. Saat itu masih terjadi penyekatan budaya. Warga keturunan Tionghoa memilih membeli bakpia milik keluarga Kwik, sedangkan warga asli Yogyakarta memilih membeli bakpia milik Niti.
Sedangkan Liem yang juga ikut membuat bakpia memutuskan untuk pindah dari Kampung Pajeksan ke Kampung Pathuk, tepatnya di KS Tubun Nomor 75, yang akhirnya berkembang menjadi sentra industri bakpia dengan nama Bakpia Patuk 75. Liem berhasil membuat bakpia dengan kulit yang lebih tipis, ujung datar, dan agak kosong dengan isi kacang hijau. Tahun 1980-an, usaha bakpia milik Liem berkembang sangat pesat. Ia memiliki banyak karyawan. Beberapa karyawan Liem mencuri resep pembuatan bakpia kemudian ikut-ikutan membuatnya , bahkan ada yang sampai membuka kursus. Namun karena tingginya permintaan pasar sehingga Bakpia Patuk 75 juga mengambil bakpia buatan warga sekitar. Era 1990-an bakpia telah bermetamorfosis menjadi makanan khas Yogyakarta dan Kampung Pathuk dinobatkan sebagai kampung bakpia. (Sumber : Kompas)
Sumber : www.pesansaja.com
Saat ini bakpia tidak hanya berisi kacang hijau lho. Varian baru mulai bermunculan. Mulai yang isi kumbu hitam, cokelat,bahkan keju. Yummy...
Itulah sejarah makanan yang bernama bakpia. Bakpia menjadi simbol konkret toleransi dan akulturasi budaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar