Kamis, 28 November 2013

Satu hari Terakhir

“Kita punya mimpi dan kita harus meraihnya,biarkanlah jarak memisahkan persahabatan kita. Tapi aku berharap itu tak akan menjadi halangan buat kita. Best Friend Forever”
Inilah yang harus dilalui,
Malam ini aku termenung memandangi langit yang kelam, bintang-bintang enggan muncul tampaknya. Sorot mataku tampak kosong, ku biarkan tubuhku dihempas dinginnya angin malam. Ketakutan itu muncul menyeruak dalam otakku. Ketakutan akan hidup, yang seharusnya tak perlu aku takutkan.
Ku ambil HP di atas meja, ku ketik sms untuk Trian,
Bisakah kau luangkan waktumu bsok?hanya satu hari besok saja, setelah itu aku tak akan mengganggumu lagi.
Lalu sms balasan dari Trian aku terima
Tentulah selagi aku bisa. Kenapa kamu bicara seperti itu?
aku balas smsnya dengan kata yang singkat.
Aku tunggu bsok jam 8.00 di rumah. ajak aku kemanapun aku menginginkannya.

Dan pagi itu tepat pukul delapan, Trian sudah menunggu di depan rumah. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, kami berdua pun pergi dengan motor yang dibawa Trian. Ku berikan daftar tempat yang ingin aku kunjungi padanya. Aku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin dia bertanya-tanya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah SMA dimana kami bersekolah dulu. Hari ini tak ada aktifitas sekolah karena memang hari ini minggu. Kami minta izin untuk masuk dan akhirnya kami pun diizinkan. Aku menuju kelas dimana dulu aku pernah duduk, aku meminta foto berdua dengannya. Dia pun menurut saja.
Tempat kedua adalah di padang ilalang, karena memang aku sangat suka dengan padang ilalang. Aku tak peduli ketika daunnya melukai kulitku. Trian aku ajak berlari-lari di tempat ini. Ku lepaskan beban yang ada, ku umbarkan senyum bahagia. Begitupun dengan Trian, meskipun aku tahu masih ada tanya di sinar matanya.
Lalu kami pergi ke pantai. Disini aku mengajaknya duduk di pasir dan membiarkan tubuh kami terhempas oleh ombak yang datang silih berganti. Memandangi langit yang begitu bersih. Ku tuliskan namaku dan trian di pasir. Aku menyuruhnya memfotoku di dekat tulisan itu kemudian kami meminta seorang wisatawan untuk memfoto kami berdua. Selesai itu aku mengajaknya kembali duduk di pasir, aku masih ingin menghabiskan waktu disini.
“Sas, bolehkah aku bertanya?”
Aku masih saja terdiam,
“kenapa kamu harus berkata seperti itu kemarin? apa aku punya salah?”lanjutnya
Sedangkan aku hanya menghela napas panjang, dadaku terasa sesak. Kepalaku juga sakit, ku jatuhkan tubuhku di pasir. Aku hanya tak mau pingsan.
“kenapa kamu sas?”memegangi bahuku. Wajahnya tampak begitu khawatir.
Aku hanya menggelengkan kepala. Sakit itu semakin menderaku, seakan tak kuat lagi aku menahannya. Aku meringis kesakitan. Setelah sakit itu reda,
“bisakah kita makan jagung bakar?sepertinya itu enak!”ajakku. Gila memang, tapi inilah aku.
Trian hanya bisa menuruti keinginanku sambil menggelengkan kepalanya menandakan heran. Dan kami pun makan jagung berdua di pinggir pantai sambil menikmati senja yang mulai datang dan matahari pun mulai memerah.
“bukankah ini indah?”
“iya, ini indah sekali.”jawab Satria..”apa dirimu bahagia?”timpalnya lagi
Aku pun mengangguk. Betapa bahagianya hari ini, bisa menghabiskan waktu bersamanya.
         “Aku besok mau kembali ke Jogja”
“iya, aku tau.”jawabku lirih.

“sudah hampir magrib. Sebaiknya kita ke masjid dulu lalu pulang,”ajaknya


Kami pun ke masjid untuk menunaikan sholat magrib. Selepas itu kami pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Trian kembali menayakan hal itu lagi.
 
   “Sas, sekali lagi aku tanya sama kamu. Apa maksud kata-katamu semalam? Kita ini teman Sas, kamu ndak boleh berkata seperti itu.” 
 “Allah akan memberi tahu semuanya sampai waktu itu tiba. Waktu yang tak pernah aku tahu kapan akan datang. Aku bahagia Trian bisa mengenalmu, meskipun cintaku bertepuk sebelah tangan tapi aku bahagia. Kau bisa hadir saat aku membutuhkanmu. Mungkin inilah takdir yang harus kita jalani. Aku dan kamu memang tidak bisa bersatu. karena aku juga tak pernah menginginkan menjadi kekasihmu. Tunggulah saat waktu itu tiba, maka dirimu akan tahu semua maksud perkataanku. Aku titip ini,”menyerahkan sebuah kotak kepada Trian.”tolong jaga ini, karena aku tahu aku tetap berarti buat kamu meskipun hanya sebatas sahabat.aku harap dirimu tidak membukanya sebelum kamu mengerti akan kata-kataku.”
 Wajah Trian semakin bingung, dia hanya mengambil kotak dariku. “baiklah, akan aku jaga sebaik mungkin. Yang perlu kamu tahu Sas, kamu itu penting buat aku. Jadi jangan pernah katakan itu lagi kepadaku. Kita akan tetap bersama.”
Aku tersenyum mendengar kata-kata Trian.”Aku janji.”


***
            Pagi itu Trian hendak ke Bandara, hari ini dia akan kemabli ke jogja. Di tengah perjalanan ada telpon masuk.
          “Hallo Ri. Ada apa?”
          “yan, Saskia masuk rumah sakit.”
          “Apa?masuk rumah sakit?”
        “iya yan, kata kakaknya kondisi Saskia kritis. sekarang dia di Rumah Sakit Harapan    Bunda”
Mendengar kabar itu langsung membuat Trian lemas. Wajahnya pucat, benar-benar tak percaya. Baru kemarin dia menghabiskan waktu dengan saskia. Trian langsung menuju ke Rumah Sakit, dia tak jadi ke Bandara. Pikirannya kacau. Mobil yang dikendarainya melaju kencang ke rumah sakit.
Saskia di rawat di ruang ICU, subuh tadi kondisinya kritis. Saskia tak sadarkan diri. Di depan ruang ICU Trian langsung menjatuhkan tubuhnya. Dadanya terasa sesak, tubuh terasa lumpuh tak berdaya. Di dapatinya Saskia tak akan lagi ada di sampingnya. Sungguh sakit hati terasa, masih lekat dalam memorinya akan hari kemarin dengan Saskia.
Meskipun sesungguhnya ia tak sanggup, tapi ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang ICU. Ada keluarganya yang dirundung pilu. Ditinggal seorang anggota keluarga yang mereka cintai. Yang sadar akan kedatangannya yaitu Leo, kakak kandung Saskia. Leo merangkul Trian dengan erat, berusaha menguatkan Trian. Air mata trian tak dapat ia sembunyikan lagi. Sungguh tak rela wanita yang dikasihinya pergi meninggalkannya.
“inikah maksud kata-katamu Sas?kamu meninggalkan aku sendiri disini, sebelum aku mengungkapkan rasa ini. Bukan aku selama ini tak mencintaimu. Hanya saja aku belum siap menerima semuanya. Andai saja kamu tahu, aku sangat mencintai kamu. Tapi takdir Tuhan memang berkata lain, Allah menginginkan cinta itu terukir abadi dalam hatiku.”
Membuatmu tersenyum disaat hari terakhirmu semoga cukup mengungkapkan perasaanku padamu sas.

Setelah pemakaman Saskia, Trian teringat kotak yang diberikan Saskia
Mimpi untuk bisa hidup denganmu dalam ikatan suci itu terukir indah
Menghabiskan waktu berdua
Tapi itu hanya ada dalam imajinasiku
Aku tau, aku berharga untukmu
Aku bahagia bersamamu
ikhlaskan aku untuk pergi
Masa depanmu masih panjang
Jangan pernah dirimu sia-siakan
Aku minta maaf jika aku terlalu sering menyakitimu
tp itu semua ku lakukan karena aku takut kehilanganmu
dan kali ini aku minta maaf
aku harus pergi terlebih dahulu
biarkan cinta ini ikut terkubur bersama jasadku.
terima kasih atas semuanya
atas persahabatan indah kita
 
                                                                          Saskia


"Sas, aku mencintaimu. namun belum sempat kata itu terucap dirimu sudah harus pergi meninggalkanku?"Trian menitihkan air mata. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar