Inilah
yang harus dilalui,
Malam
ini aku termenung memandangi langit yang kelam, bintang-bintang enggan muncul
tampaknya. Sorot mataku tampak kosong, ku biarkan tubuhku dihempas dinginnya
angin malam. Ketakutan itu muncul menyeruak dalam otakku. Ketakutan akan hidup,
yang seharusnya tak perlu aku takutkan.
Ku
ambil HP di atas meja, ku ketik sms untuk Trian,
Bisakah kau luangkan waktumu bsok?hanya
satu hari besok saja, setelah itu aku tak akan mengganggumu lagi.
Lalu
sms balasan dari Trian aku terima
Tentulah selagi aku bisa. Kenapa kamu
bicara seperti itu?
aku
balas smsnya dengan kata yang singkat.
Aku tunggu bsok jam 8.00 di rumah. ajak
aku kemanapun aku menginginkannya.
Dan
pagi itu tepat pukul delapan, Trian sudah menunggu di depan rumah. Setelah
berpamitan dengan kedua orang tuaku, kami berdua pun pergi dengan motor yang
dibawa Trian. Ku berikan daftar tempat yang ingin aku kunjungi padanya. Aku tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin dia bertanya-tanya.
Tempat
pertama yang kami kunjungi adalah SMA dimana kami bersekolah dulu. Hari ini tak
ada aktifitas sekolah karena memang hari ini minggu. Kami minta izin untuk
masuk dan akhirnya kami pun diizinkan. Aku menuju kelas dimana dulu aku pernah
duduk, aku meminta foto berdua dengannya. Dia pun menurut saja.
Tempat
kedua adalah di padang ilalang, karena memang aku sangat suka dengan padang
ilalang. Aku tak peduli ketika daunnya melukai kulitku. Trian aku ajak
berlari-lari di tempat ini. Ku lepaskan beban yang ada, ku umbarkan senyum
bahagia. Begitupun dengan Trian, meskipun aku tahu masih ada tanya di sinar
matanya.
Lalu
kami pergi ke pantai. Disini aku mengajaknya duduk di pasir dan membiarkan
tubuh kami terhempas oleh ombak yang datang silih berganti. Memandangi langit
yang begitu bersih. Ku tuliskan namaku dan trian di pasir. Aku menyuruhnya
memfotoku di dekat tulisan itu kemudian kami meminta seorang wisatawan untuk
memfoto kami berdua. Selesai itu aku mengajaknya kembali duduk di pasir, aku
masih ingin menghabiskan waktu disini.
“Sas,
bolehkah aku bertanya?”
Aku
masih saja terdiam,
“kenapa
kamu harus berkata seperti itu kemarin? apa aku punya salah?”lanjutnya
Sedangkan
aku hanya menghela napas panjang, dadaku terasa sesak. Kepalaku juga sakit, ku
jatuhkan tubuhku di pasir. Aku hanya tak mau pingsan.
“kenapa
kamu sas?”memegangi bahuku. Wajahnya tampak begitu khawatir.
Aku
hanya menggelengkan kepala. Sakit itu semakin menderaku, seakan tak kuat lagi
aku menahannya. Aku meringis kesakitan. Setelah sakit itu reda,
“bisakah
kita makan jagung bakar?sepertinya itu enak!”ajakku. Gila memang, tapi inilah
aku.
Trian hanya bisa menuruti
keinginanku sambil menggelengkan kepalanya menandakan heran. Dan kami pun makan
jagung berdua di pinggir pantai sambil menikmati senja yang mulai datang dan
matahari pun mulai memerah.
“bukankah ini indah?”
“iya, ini indah sekali.”jawab Satria..”apa dirimu bahagia?”timpalnya
lagi
Aku pun mengangguk. Betapa
bahagianya hari ini, bisa menghabiskan waktu bersamanya.
“Aku besok mau kembali ke Jogja”
“Aku besok mau kembali ke Jogja”
“iya, aku tau.”jawabku lirih.
“sudah hampir magrib.
Sebaiknya kita ke masjid dulu lalu pulang,”ajaknya
Kami pun ke masjid untuk
menunaikan sholat magrib. Selepas itu kami pun pulang ke rumah. Sesampainya di
rumah, Trian kembali menayakan hal itu lagi.
“Sas, sekali lagi aku tanya sama kamu. Apa maksud
kata-katamu semalam? Kita ini teman Sas, kamu ndak boleh berkata seperti itu.”
“Allah akan memberi tahu semuanya sampai waktu itu tiba.
Waktu yang tak pernah aku tahu kapan akan datang. Aku bahagia Trian bisa
mengenalmu, meskipun cintaku bertepuk sebelah tangan tapi aku bahagia. Kau bisa
hadir saat aku membutuhkanmu. Mungkin inilah takdir yang harus kita jalani. Aku
dan kamu memang tidak bisa bersatu. karena aku juga tak pernah menginginkan
menjadi kekasihmu. Tunggulah saat waktu itu tiba, maka dirimu akan tahu semua
maksud perkataanku. Aku titip ini,”menyerahkan sebuah kotak kepada
Trian.”tolong jaga ini, karena aku tahu aku tetap berarti buat kamu meskipun
hanya sebatas sahabat.aku harap dirimu tidak membukanya sebelum kamu mengerti
akan kata-kataku.”
Wajah Trian semakin bingung, dia hanya mengambil kotak
dariku. “baiklah, akan aku jaga sebaik mungkin. Yang perlu kamu tahu Sas, kamu
itu penting buat aku. Jadi jangan pernah katakan itu lagi kepadaku. Kita akan
tetap bersama.”
Aku tersenyum mendengar
kata-kata Trian.”Aku janji.”
***
Pagi itu Trian hendak ke Bandara, hari ini dia akan
kemabli ke jogja. Di tengah perjalanan ada telpon masuk.
“Hallo Ri. Ada apa?”
“yan, Saskia masuk rumah
sakit.”
“Apa?masuk rumah sakit?”
“iya yan, kata kakaknya
kondisi Saskia kritis. sekarang dia di Rumah Sakit Harapan Bunda”
Mendengar kabar itu langsung
membuat Trian lemas. Wajahnya pucat, benar-benar tak percaya. Baru kemarin dia
menghabiskan waktu dengan saskia. Trian langsung menuju ke Rumah Sakit, dia tak
jadi ke Bandara. Pikirannya kacau. Mobil yang dikendarainya melaju kencang ke
rumah sakit.
Saskia di rawat di ruang
ICU, subuh tadi kondisinya kritis. Saskia tak sadarkan diri. Di depan ruang ICU
Trian langsung menjatuhkan tubuhnya. Dadanya terasa sesak, tubuh terasa lumpuh
tak berdaya. Di dapatinya Saskia tak akan lagi ada di sampingnya. Sungguh sakit
hati terasa, masih lekat dalam memorinya akan hari kemarin dengan Saskia.
Meskipun sesungguhnya ia tak
sanggup, tapi ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang ICU. Ada
keluarganya yang dirundung pilu. Ditinggal seorang anggota keluarga yang mereka
cintai. Yang sadar akan kedatangannya yaitu Leo, kakak kandung Saskia. Leo
merangkul Trian dengan erat, berusaha menguatkan Trian. Air mata trian tak
dapat ia sembunyikan lagi. Sungguh tak rela wanita yang dikasihinya pergi
meninggalkannya.
“inikah maksud kata-katamu
Sas?kamu meninggalkan aku sendiri disini, sebelum aku mengungkapkan rasa ini.
Bukan aku selama ini tak mencintaimu. Hanya saja aku belum siap menerima
semuanya. Andai saja kamu tahu, aku sangat mencintai kamu. Tapi takdir Tuhan
memang berkata lain, Allah menginginkan cinta itu terukir abadi dalam hatiku.”
Membuatmu tersenyum disaat
hari terakhirmu semoga cukup mengungkapkan perasaanku padamu sas.
Setelah pemakaman Saskia,
Trian teringat kotak yang diberikan Saskia
Mimpi
untuk bisa hidup denganmu dalam ikatan suci itu terukir indah
Menghabiskan
waktu berdua
Tapi
itu hanya ada dalam imajinasiku
Aku
tau, aku berharga untukmu
Aku bahagia bersamamu
ikhlaskan aku untuk pergi
Masa depanmu masih panjang
Jangan pernah dirimu sia-siakan
Aku minta maaf jika aku terlalu sering menyakitimu
tp itu semua ku lakukan karena aku takut kehilanganmu
dan kali ini aku minta maaf
aku harus pergi terlebih dahulu
biarkan cinta ini ikut terkubur bersama jasadku.
terima kasih atas semuanya
atas persahabatan indah kita
Saskia
"Sas, aku mencintaimu. namun belum sempat kata itu terucap dirimu sudah harus pergi meninggalkanku?"Trian menitihkan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar